Pada masa-masa susah di sebuah kota kecil Idaho,
> saya suka mengunjungi toko kecil di tepi jalan milik
> Mr Miller yang menyediakan produk segar
> hasil pertanian.
> Makanan dan uang cukup langka pada waktu itu...
> dan jual beli dilakukan dengan cara tukar
> menukar barang.
>
> Satu hari, Mr Miller sedang mengepak
> kentang-kentang yang saya beli ketika tidak sengaja
> saya melihat seorang anak yang kecil kurus
> kelaparan, compang-camping tetapi bersih,
> nampak sedang memilih-milih kacang polong segar
> yang baru dipetik di keranjang.
> Saya membayar untuk kentang-kentang saya sambil
> ikut tertarik pada kacang polong tersebut.
> Saya adalah penjual kentang dan krim kacang.
> Saat menimbang kacang polong, tanpa sadari,
> saya ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
>
> "Halo Barry, bagaimana kabarmu hari ini?"
> tanya si pemilik toko.
>
> 'Halo, Mr Miller. Saya baik, terima kasih ya.
> Saya cuma mengagumi kacang polong ini....
> tampak segar dan bagus-bagus"
>
> "Itu memang bagus Barry. Bagaimana dengan
> ibu kamu? "
>
> "Oh... dia membaik, dan nampak semakin kuat."
>
> "Bagus. Apa ada yang bisa saya bantu? "
>
> "Tidak, Sir. saya cuma mengagumi kacang polong ini. "
>
> 'Apakah kamu ingin beberapa untuk di bawa pulang?"
> kata Mr Miller.
>
> "Tidak, Sir. Saya tidak ada uang untuk membayar. "
>
> "Jika begitu, apa kamu punya sesuatu
> sebagai penukar?"
>
> "Saya hanya punya beberapa kelereng hadiah."
>
> "Apakah itu benar? Coba kulihat "kata Mr Miller.
>
> "Ini .. bagus. "
>
> "Aku bisa melihatnya. Hmm sayang warnanya biru
> sedang saya mencari warna merah. Apakah kamu
> memilikinya seperti ini di rumah? "
>
> "Tidak persis tapi hampir sama. "
>
> 'Begini saja. Ambil saja dulu kacang polong ini,
> dan lain kali, kamu bawa kelereng kamu yang merah'.
> kata Mr Miller kepada anak itu.
>
> "Tentu. Terima kasih Mr Miller. "
>
> Ny Miller, yang sedang berdiri tidak jauh,
> datang untuk membantu saya.
> Dengan tersenyum dia berkata,
> "Ada dua anak laki-laki lain seperti dia di komunitas
> kami, ketiganya sama-sama sangat miskin.
> Jim suka tawar-menawar dengan mereka untuk
> kacang polong, apel, tomat, atau apa pun.
> Jika mereka kembali dengan warna yang diminta,
> Jim akan berkata bahwa dia sudah tidak mencari
> warna tersebut dan akan menanyakan warna lainnya.
> Tetapi Jim tetap memberikan apa saja yang mereka
> ingin tukarkan."
>
> Saya meninggalkan toko sambil tersenyum sendiri,
> terkesan dengan orang ini.
> Beberapa waktu kemudian saya pindah ke Colorado,
> tapi saya tidak pernah lupa kisah tentang orang ini,
> anak-anak, dan cara barter mereka.
>
> Beberapa tahun berlalu dengan cepat.
> Baru-baru ini saya memiliki kesempatan untuk
> mengunjungi beberapa teman lama di komunitas
> Idaho dan mendengar bahwa Mr Miller
> meninggal dunia.
> Teman-teman saya berencana untuk berkunjung
> sore itu dan saya sepakat untuk ikut.
>
> Saat tiba di tempat jenasah disemayamkan,
> kita menemui keluarga almarhum untuk
> menyampaikan bela sungkawa dan
> kata-kata penghiburan.
> Di depan kami, nampak tiga orang muda.
> Salah satunya mengenakan seragam tentara dan
> dua lainnya berpotongan rambut bagus,
> setelan gelap dan kemeja putih ... semua tampak
> sangat profesional.
>
> Mereka semua menghampiri Mrs Miller dan berdiri
> disampingnya sambil tersenyum kepada jenasah
> Mr Miller di dalam peti mati.
>
> Setiap pemuda memeluknya, mencium pipi,
> bicara singkat dengannya dan pindah ke peti mati,
> dengan mata berkaca-kaca, satu per satu,
> masing-masing pemuda berhenti sebentar dan
> meletakkan tangan mereka di atas tangan yang
> pucat dingin di peti mati.
> Satu persatu meninggalkan tempat itu sambil
> menyeka mata.
>
> Giliran kami datang menemui Ny Miller.
> Saya bilang padanya siapa saya dan
> mengingatkannya pada kisah dari tahun-tahun yang
> lalu dan ketika ia bercerita tentang suaminya yang
> suka berbarter untuk kelereng.
> Dengan mata berkaca-kaca, dia meraih tanganku
> dan membawa saya ke peti mati.
>
> "Mereka tiga pemuda yang baru saja meninggalkan
> adalah anak laki-laki yang kuceritakan dulu.
> Mereka hanya mengatakan kepada saya bagaimana
> mereka menghargai hal-hal yang Jim 'perdagangkan'
> pada mereka.
> Sekarang, pada akhirnya, ketika Jim sudah tidak
> bisa lagi meminta warna atau ukuran kelereng ....
> mereka datang untuk membayar utang mereka. "
>
> 'Kami tidak pernah memiliki banyak kekayaan
> di dunia ini, "ia mengaku," tapi sekarang, Jim akan
> menganggap dirinya orang terkaya di Idaho ..'
>
> Dengan lembut, dia mengangkat jari-jari
> almarhum suaminya.
> Nampak disitu tiga buah kelereng warna merah
> yang bersinar indah.
>
> *Moral:*
> *Orang mungkin tidak bisa mengingat semua
> perkataan kita, tetapi akan mengingat segala
> perbuatan baik kita.
> Hidup ini tidak diukur oleh nafas yang kita habiskan,
> tetapi oleh waktu yang kita habiskan untuk bernafas.
>
> Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan
> segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan
> untuk manusia*.
Rabu, 06 Oktober 2010
Story of "Buku Tabungan"
* Bagus bgt buat dibaca sama yang mau menikah, atau yang sudah menikah* .. Taken from someone in Milis Cita Cinta, thank you for share..
Priya menikah dengan Hitesh. Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan. Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000 (Rp 246.000). Dia berkata, "Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu. Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya. Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya. Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar. Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini.. Lakukan selanjutnya bersama Hitesh. Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."
Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai.. Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan ke dalam buku itu.
Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :
- 7 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.
- 1 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik
- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali
- 15 April : Rs 2..000 (Rp 492.000), Priya hamil
- 1 Juni ; Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ... dan seterusnya ...
Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta ... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.
Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi. Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya telah memutuskan menikah dengan orang ini !"
Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis. Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."
Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan berencana menutup buku tabungan itu. Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya. Dia melihat, melihat, dan melihat. Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya. Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.
Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh, dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.
Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya. Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan: 'Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku." Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.
Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun? Saya tidak bertanya pada mereka. Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka.
* * * * *
"Saat engkau jatuh, jangan melihat tempat di mana kamu jatuh, tetapi lihatlah tempat di mana kamu mulanya tergelincir. "
============ ========= ========= ==
YesterDay is Historey
Tomorrow is Mistery
But ToDay... is a GIFT
that's Why it is called as PRESENT
Love,
Andini
Priya menikah dengan Hitesh. Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan. Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000 (Rp 246.000). Dia berkata, "Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu. Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya. Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya. Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar. Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini.. Lakukan selanjutnya bersama Hitesh. Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."
Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai.. Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan ke dalam buku itu.
Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :
- 7 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.
- 1 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik
- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali
- 15 April : Rs 2..000 (Rp 492.000), Priya hamil
- 1 Juni ; Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ... dan seterusnya ...
Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta ... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.
Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi. Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya telah memutuskan menikah dengan orang ini !"
Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis. Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."
Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan berencana menutup buku tabungan itu. Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya. Dia melihat, melihat, dan melihat. Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya. Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.
Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh, dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.
Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya. Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan: 'Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku." Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.
Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun? Saya tidak bertanya pada mereka. Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka.
* * * * *
"Saat engkau jatuh, jangan melihat tempat di mana kamu jatuh, tetapi lihatlah tempat di mana kamu mulanya tergelincir. "
============ ========= ========= ==
YesterDay is Historey
Tomorrow is Mistery
But ToDay... is a GIFT
that's Why it is called as PRESENT
Love,
Andini
True Story - Kebesaran Jiwa Seorang Ibu
Taken from Milis Femina *Must read* Thanks for share
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan,
tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan
lewat media cetak dan electronic. Ada seorang
pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak
yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu
pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun
lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta,
dia sudah di promosikan ke posisi manager.
Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh
dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya
yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan
cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat
ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya
seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit
kepala terlihat seperti borok yang baru mengering.
Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan
belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak.
Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang
keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.
Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang
sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain.
Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang
pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu
membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.
Setiap kali ada teman atau kolega business yang
bertanya siapa wanita cacat dirumahnya,
A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang
ikut Ibunya dulu sebelum meninggal.
"Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan."
jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap
diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya.
Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya
sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.
Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari
ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang.
A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu,
mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala
keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan
oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan
buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja
(di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada
mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT
(bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak
lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan
koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be.
Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik.
Potongan koran usang memberitakan tentang seorang
wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan
anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk
erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan
sprei kasur basah menerobos api yang sudah
mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang
anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.
Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk
mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa
wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu.
Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang
terbaring sakit tak berdaya.
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa
dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping
ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis
ia meminta maaf dan memohon ampun atas
dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis,
terharu dengan ketulusan hati anaknya.
"Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi".
Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya
belanja ke supermarket.
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap
cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli
tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam
media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini
di media cetak, saya sempat menangis...
Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah,
biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud
di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.
Love,
Andini
Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan,
tahun berapaan udah lupa. Dan sempat dipublikasikan
lewat media cetak dan electronic. Ada seorang
pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Dia anak
yg cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu
pendapat cewe2 yang kenal dia. Baru beberapa tahun
lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta,
dia sudah di promosikan ke posisi manager.
Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh
dari kantor.
Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya
yang sederhana membuat banyak teman2 kantor
senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan
cewe2 jomblo. Bahkan putri owner perusahaan tempat
ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.
Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya
seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit
kepala terlihat seperti borok yang baru mengering.
Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan
belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak.
Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini
betul2 seperti monster yang menakutkan. Ia jarang
keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya
kalau tidak ada keperluan penting.
Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be.
Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan
pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang
sehat. Membereskan rumah, pekerjaan dapur,
cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain.
Juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada
anak satu2-nya A be. Namun A be adalah seorang
pemuda normal layaknya anak muda lain.
Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu
membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.
Setiap kali ada teman atau kolega business yang
bertanya siapa wanita cacat dirumahnya,
A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang
ikut Ibunya dulu sebelum meninggal.
"Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan."
jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh
sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap
diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya.
Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya
sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.
Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari
ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang.
A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu,
mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala
keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan
oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan
buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja
(di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada
mahal sekali). Hal ini membuat A be jadi BT
(bad temper) dan uring-uringan di rumah.
Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak
lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil.
Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan
koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be.
Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik.
Potongan koran usang memberitakan tentang seorang
wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan
anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk
erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan
sprei kasur basah menerobos api yang sudah
mengepung rumah.
Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang
anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun.
Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk
mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa
wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu.
Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang
terbaring sakit tak berdaya.
Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa
dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran
usang tersebut, A be langsung bersujud disamping
ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis
ia meminta maaf dan memohon ampun atas
dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis,
terharu dengan ketulusan hati anaknya.
"Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan.
Jangan di ungkit lagi".
Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya
belanja ke supermarket.
Walau menjadi pusat perhatian banyak orang, A be tetap
cuek bebek. Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli
tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam
media cetak dan elektronik. Ketika membaca kisah ini
di media cetak, saya sempat menangis...
Teman2 yang masih punya Ibu (Mama atau Mami) di rumah,
biar bagaimanapun kondisinya, segera bersujud
di hadapannya. Selagi masih ada waktu ya.
Love,
Andini
Tempat yang tidak tergantikan
Tempat Yang Tidak Tergantikan
by Rachma Andini on Thursday, February 4, 2010 at 2:28pm
( Thanks for @Teeta Franchiska for share - Milis citacinta/femina )
Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi,
sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam
surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah
meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak
yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya
merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan
rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera
berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus
menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan.
Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas
berangkat ke tempat kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu
hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja
sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung
masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku
merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak
menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan
tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah
sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang
berantakan di seprai dan selimut!
Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung
menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan
pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas
kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum
pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah
mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada
orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan
menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi
untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku
menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi
aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan
saya ... Saya minta maaf Dad ... "
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin
anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan
menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara
tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya
dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan
dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan
kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar
anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di
pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini,
untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan
juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.
Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman
Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan
buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar
menyesal....
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya
absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap
dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di
sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya
di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku
marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam
saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara
"pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah
siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak
punya ibu.....
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke
rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan
menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya
untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan
melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim
dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di
hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh
pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku
sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba
kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya,
tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang
bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya
telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji
untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan
diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah
benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta
maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan
alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa
alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong
anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk
mommy.....".
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca..... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan
terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak
surat-surat, pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang
lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi
bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru
ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku
mengirimkannya sekaligus".
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung,
tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk
selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan
membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah
mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia
bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas
namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi
penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi
abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Mommy sayang',
Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di
sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi
kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak
memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis
dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan
mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya,
setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku,
tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.
Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita
berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy
muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda?
Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka
kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau
tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak
pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak
ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang
penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari
padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu,
membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga
dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu
dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah
kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan
posisinya.
(true love)
frm: JA
Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi,
sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam
surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah
meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak
yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya
merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan
rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera
berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus
menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan.
Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas
berangkat ke tempat kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu
hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja
sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung
masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku
merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak
menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan
tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah
sumber 'masalah'nya ... sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang
berantakan di seprai dan selimut!
Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung
menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan
pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas
kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum
pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah
mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada
orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan
menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi
untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku
menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi
aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan
saya ... Saya minta maaf Dad ... "
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin
anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan
menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara
tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya
dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan
dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan
kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar
anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di
pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini,
untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan
juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya.
Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman
Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan
buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar
menyesal....
Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya
absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap
dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di
sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya
di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku
marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam
saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara
"pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah
siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak
punya ibu.....
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke
rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan
menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya
untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan
melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim
dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di
hati setiap orang yg lalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh
pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku
sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba
kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya,
tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang
bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya
telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji
untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan
diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah
benar-benar keterlaluan. Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta
maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan
alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa
alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong
anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini?
Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk
mommy.....".
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca..... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan
terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak
surat-surat, pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang
lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi
bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru
ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku
mengirimkannya sekaligus".
Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung,
tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk
selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan
membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah
mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia
bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas
namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi
penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi
abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Mommy sayang',
Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di
sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut. Tapi
kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak
memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis
dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan
mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya,
setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku,
tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.
Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita
berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy
muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda?
Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka
kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau
tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak
pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak
ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang
penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari
padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu,
membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga
dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu
dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah
kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan
posisinya.
(true love)
frm: JA
Hidup adalah belajar...
Saya dapet BBM ini waktu lebaran dari salah satu teman saya, which is Mas Ponco, suaminya Chika.. saya sukaaaaa bgt sama isi BBMnya,, maknanya begitu dalam buat saya.. makasih ya mas ponco atas kirimannya
Ini saya share disini :), jadi orang orang juga bisa baca
Hidup adalah belajar...
Belajar bersyukur meski tak cukup
Belajar ikhlas meski tak rela
Belajar taat meski berat
belajar memahami meski tak sehati
Belajar sabar meski terbebani
Belajar setia meski tergoda
Belajar memberi meski tak seberapa
Belajar menyakiti meski disakiti
Belajar tenang meski gelisah
Belajar percaya meski susah
Belajar dan terus belajar
Karna dalam hidup kita akan selalu belajar..
Mungkin bagi sebagian orang kata kata ini tak bermakna,, tapi bagi saya kata kata diatas sangat berarti..Itu semua saya rasakan, karna itu maknanya sangat dalam buat saya.. jadi cobalah renungkan dan belajar..
Love,,
Andini Apple
Ini saya share disini :), jadi orang orang juga bisa baca
Hidup adalah belajar...
Belajar bersyukur meski tak cukup
Belajar ikhlas meski tak rela
Belajar taat meski berat
belajar memahami meski tak sehati
Belajar sabar meski terbebani
Belajar setia meski tergoda
Belajar memberi meski tak seberapa
Belajar menyakiti meski disakiti
Belajar tenang meski gelisah
Belajar percaya meski susah
Belajar dan terus belajar
Karna dalam hidup kita akan selalu belajar..
Mungkin bagi sebagian orang kata kata ini tak bermakna,, tapi bagi saya kata kata diatas sangat berarti..Itu semua saya rasakan, karna itu maknanya sangat dalam buat saya.. jadi cobalah renungkan dan belajar..
Love,,
Andini Apple
Sabtu, 18 September 2010
Bedah Rumah di RCTI

Sumpah ya, dari dulu tiap nonton acara ini ngga pernah ngga nangis, hehehe.. aku saluuuuuut bgt sama Helmy Yahya sebagai produser dan Ratna Listy sebagai pembawa acara, and this is one of my favorite show.
Emang sih, banyak juga yg menganggap acara ini ngga banget, ajang promosi, malah ada yg bilang itu kan cuma pake tripleks, dan masih banyak lagi yang sering aku dengar. tapi aku ngga pernah perduli sedikitpun, buat aku mau itu promosi atau "hanya sekedar dari tripleks" tapi itu sangat berarti buat orang orang yang dibantu. orang lain yg bisa nya cuma jelekin juga belum tentu bisa bikinin rumah untuk mereka yg membutuhkan, pemerintah aja belum tentu mampu.
Buat aku, cara ini jauh lebih membantu daripada bantuan semacam BLT yg akhirnya banyak mengakibatkan kericuhan dimana mana, aku sadar bgt bahwa pemerintah juga ngga mungkin bikinin rumah untuk semua rakyat yang ngga mampu, but at least, acara ini sangat memberi aku pelajaran.
Helmy Yahya memang bukan orang biasa, dia salah satu entertainer dan mungkin juga pengusaha yang hebat, kl di TV sih terkesan dingin, tapi dengan adanya acara acara yg di produseri oleh beliau, semuanya selalu membuat aku tersentuh setengah mati. Orang orang yang masuk dan dipilih oleh tim bedah rumah juga bukan sembarangan, maksudnya mereka adalah orang orang yang selama ini telah berusaha bekerja tanpa kenal lelah, walaupun 1 hari hanya menghasilkan uang yang ngga seberapa, tapi mereka bukan orang orang yang malas dan mereka patut dihargai, dan bagi yang dipilih oleh tim bedah rumah, itu kan berarti rejekinya sampai melalui Helmy Yahya, tapi kl belum dipilih, memang belum waktunya aja :)
Ratna Listy juga sangat apik dalam membawakan acara tersebut, dia ngga pernah terlihat jengah sedikitpun berada diantara orang orang yang berada jauh dibawahnya, Ratna Listy ikut tersentuh dan menangis saat mereka menangis, memeluk mereka dengan erat saat mereka terpana atas anugrah yang diberikan Allah melalui tim bedah rumah .
Coba deh bayangin, pas rumahnya lagi dibangun , keluarga yg rumahnya dibedah disuruh stay dihotel mewah yang sama sekali ngga pernah mereka bayangin. trus makan enak, berenang, dll.. mungkin bagi sebagian orang lain itu biasa, tapi bagi mereka, itu bisa jadi hanya terjadi sekali seumur hidup,, ngga bisa bayangin gimana rasanya, pasti mereka seneng bgt :)..
Trus pas pulang ternyata rumahnya udah jadi, rumah baru yang baguuuuuuussssss bgt! lengkap sama isinya.. Subhanallah, aku ngga bisa ngebayangin bagaimana bersyukur dan terharunya mereka, tapi aku selalu ikut menangis saat mereka menangis, dan sampe sesenggukan pula, sampe kadang2 suamiku geleng geleng, hehehe..
Mereka yang ngga pernah tidur di kasur, pas pulang dikamarnya udah ada tempat tidur, mereka yg ngga punya lemari, dikamarnya tersedia lemari baru, bahkan ngga sedikit dari mereka yang ngga punya tv, ngga punya meja makan, ngga punya kursi buat duduk, dan akhirnya mereka bisa punya semua itu.
Buat semua yang dengan mudahnya bisa memiliki semua itu pasti ngga akan bisa membayangkan gimana rasa hatinya. tapi aku bersyukur banget karna pernah mengenal tayangan ini, karna tayangan ini ada, dan sangat memberi pelajaran untuk aku.. bagaimanapun caranya, membantu dengan cara seperti apapun, tetap membuat hati saya tersentuh dan bersyukur karna masih ada orang sebaik Helmy Yahya dan Ratna Listy.
Kalaupun acara ini ngga mendapat penghargaan darimanapun, aku tetep salut dan memberikan apresiasi ku untuk segenap tim bedah rumah RCTI,, aku yakin Allah yang akan membalas dan memberikan penghargaan tertinggi untuk mereka :) .. Amiin
Rgds,
Andini Apple
Kamis, 26 Agustus 2010
Ibu Rumah Tangga VS Wanita Karier
Waktu itu baca salah satu status temen di FB tentang kebingungannya untuk memilih menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya atau berbagi keluarga dengan pekerjaan a.k.a wanita karier. Trus jadi kepikiran juga.. karna banyak jawaban pro dan kontra di status yang ditulis itu sendiri..
Kayaknya masalah ini banyak banget ya dialami sama perempuan dimanapun.
Hidup itu pilihan, sama juga dengan pilihan ketika kita ingin menjadi ibu rumah tangga atau harus mengemban 2 tugas sebagai wanita karier dan juga ratu dalam rumah tangga.
Menurut saya, ngga ada yang salah dari keduanya. dan keduanya punya konsekuensi masing masing.
Ada beberapa kriteria tentang ini :
* ada perempuan yang memang bisa memilih untuk jadi ibu rumah tangga seutuhnya dan segala kebutuhan ( yang bersifat materi ) tetap terpenuhi tanpa harus bekerja keras,
* ada perempuan yang memang harus bekerja untuk membantu finansial keluarga, tanpa bisa memilih apakah dia bisa jadi ibu rumah tangga atau tidak,
*ada perempuan yang memang bisa melakukan kedua peran tanpa harus memilih. dan berarti dia enjoy aja menjalani keduanya
Kalau dari kriteria yang pertama jelas, biasanya perempuan tersebut memang terlahir di kelas atas, kaya dan berkecukupan, dan juga memiliki suami yang juga sangat berkecukupan, berarti tanpa harus bekerja keras, semuanya sudah bisa terpenuhi. pemasukan hanya dari suami dan penghasilan sangat mencukupi. Ibu rumah tangga, yang tidak perlu bersusah payah membersihkan rumah ( soalnya pembantunya banyak, hahahaha ), paling hanya merawat anak, jalan jalan, melakukan sesuatu yang memang menyenangkan. Saya punya sahabat yang termasuk dalam golongan ini, sepertinya dari lahir, memang dia sudah ditakdirkan untuk berada di tempat yang seharusnya. Hidupnya bahagia, dan memang itu adalah pilihan hidupnya.
Kalau dari kriteria yang kedua, biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah, sejak sebelum menikah perempuan tersebut bekerja untuk minimal mengidupi dirinya dan setelah menikah pun harus tetap bekerja, walaupun terkadang suaminya bekerja tetapi belum mencukupi kebutuhan sehari hari, perempuan yang berada di posisi ini sangat tidak memiliki pilihan, apabila dia tidak bekerja, maka apa yang diberikan suami tidak akan mencukupi kebutuhan hidupnya. ada yang bisa menerima kondisi ini dengan ikhlas ( dan biasanya kehidupannya cukup dan bahagia ), tetapi ada juga yang menjalani dengan terpaksa ( akhirnya selalu mengeluh dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasangan ).
Dari kriteria ketiga, bisa berasal dari kalangan menengah keatas. perempuan ini memang suka bekerja, dan tetap tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri maupun ibu. Bekerja itu membuka wawasan yang luas, dan menyenangkan untuk perempuan ini, sebagai ibu pun perempuan ini tidak sedikit pun meninggalkan perannya, karna keduanya adalah kewajiban yang harus ia jalani, lelah pastinya.. tapi semua itu adalah pilihan hidup dan pilihan itu yang harus kita jalani.
Saya dilahirkan dari ibu yang memang sejak muda sudah bekerja, ibu saya diajarkan bahwa sebagai perempuan itu tidak boleh bergantung kepada laki laki sepenuhnya, karna sewaktu waktu kita ditinggalkan, maka kita tidak punya apa apa lagi untuk digenggam. itu juga yang diajarkan ibu saya kepada saya. Sejak kecil, saya tidak pernah merasa ditinggalkan oleh ibu yang bekerja, saya malah merasa bangga terhadap ibu saya, saya tidak pernah kekurangan sedikit pun kasih sayang dan perhatian walaupun ibu saya bekerja
-----bersambung------
Kayaknya masalah ini banyak banget ya dialami sama perempuan dimanapun.
Hidup itu pilihan, sama juga dengan pilihan ketika kita ingin menjadi ibu rumah tangga atau harus mengemban 2 tugas sebagai wanita karier dan juga ratu dalam rumah tangga.
Menurut saya, ngga ada yang salah dari keduanya. dan keduanya punya konsekuensi masing masing.
Ada beberapa kriteria tentang ini :
* ada perempuan yang memang bisa memilih untuk jadi ibu rumah tangga seutuhnya dan segala kebutuhan ( yang bersifat materi ) tetap terpenuhi tanpa harus bekerja keras,
* ada perempuan yang memang harus bekerja untuk membantu finansial keluarga, tanpa bisa memilih apakah dia bisa jadi ibu rumah tangga atau tidak,
*ada perempuan yang memang bisa melakukan kedua peran tanpa harus memilih. dan berarti dia enjoy aja menjalani keduanya
Kalau dari kriteria yang pertama jelas, biasanya perempuan tersebut memang terlahir di kelas atas, kaya dan berkecukupan, dan juga memiliki suami yang juga sangat berkecukupan, berarti tanpa harus bekerja keras, semuanya sudah bisa terpenuhi. pemasukan hanya dari suami dan penghasilan sangat mencukupi. Ibu rumah tangga, yang tidak perlu bersusah payah membersihkan rumah ( soalnya pembantunya banyak, hahahaha ), paling hanya merawat anak, jalan jalan, melakukan sesuatu yang memang menyenangkan. Saya punya sahabat yang termasuk dalam golongan ini, sepertinya dari lahir, memang dia sudah ditakdirkan untuk berada di tempat yang seharusnya. Hidupnya bahagia, dan memang itu adalah pilihan hidupnya.
Kalau dari kriteria yang kedua, biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah, sejak sebelum menikah perempuan tersebut bekerja untuk minimal mengidupi dirinya dan setelah menikah pun harus tetap bekerja, walaupun terkadang suaminya bekerja tetapi belum mencukupi kebutuhan sehari hari, perempuan yang berada di posisi ini sangat tidak memiliki pilihan, apabila dia tidak bekerja, maka apa yang diberikan suami tidak akan mencukupi kebutuhan hidupnya. ada yang bisa menerima kondisi ini dengan ikhlas ( dan biasanya kehidupannya cukup dan bahagia ), tetapi ada juga yang menjalani dengan terpaksa ( akhirnya selalu mengeluh dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasangan ).
Dari kriteria ketiga, bisa berasal dari kalangan menengah keatas. perempuan ini memang suka bekerja, dan tetap tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri maupun ibu. Bekerja itu membuka wawasan yang luas, dan menyenangkan untuk perempuan ini, sebagai ibu pun perempuan ini tidak sedikit pun meninggalkan perannya, karna keduanya adalah kewajiban yang harus ia jalani, lelah pastinya.. tapi semua itu adalah pilihan hidup dan pilihan itu yang harus kita jalani.
Saya dilahirkan dari ibu yang memang sejak muda sudah bekerja, ibu saya diajarkan bahwa sebagai perempuan itu tidak boleh bergantung kepada laki laki sepenuhnya, karna sewaktu waktu kita ditinggalkan, maka kita tidak punya apa apa lagi untuk digenggam. itu juga yang diajarkan ibu saya kepada saya. Sejak kecil, saya tidak pernah merasa ditinggalkan oleh ibu yang bekerja, saya malah merasa bangga terhadap ibu saya, saya tidak pernah kekurangan sedikit pun kasih sayang dan perhatian walaupun ibu saya bekerja
-----bersambung------
Langganan:
Postingan (Atom)